Jumat, 04 Juni 2010

My lovely Ghost (belon fix)

PRAAAAAANG!!!!
“MAMAAAAAAAAA!!!!!!!”
“Anata!! Kenapa sayang???!!”
“Itu tadi Sita mecahin aquarium nataa... trus dia lari ke belakang pohon”
“Mana sayang?di belakang pohon ga ada siapa-siapa. Lagian, Sita itu siapa? Kita kan baru pindah ke sini, kamu udah punya temen lagi??”
“Iya dong maa.. katanya, Sita rumahnya di sebelah. Itu loh maa, yang rumahnya gedeeeeee banget!!!”
“Oh ya? Ya udah, besok kalo rumah kita udah selesai ditata sama om Bima, kita ke sana ya..”

Oh iya!!!! Namaku Anata Jennifer Gunawan. Panggil aja Nata... Sekarang aku berumur 22 tahun. Dialog di atas itu, antara aku dan mamaku, Ibu Erica Feby Gunawan saat aku berumur 4 tahun. 18 tahun lalu, saat aku dan mamaku pindah dari Jakarta ke Bandung setelah ditinggal 2 tahun oleh papaku yang aku sendiri tidak pernah tahu wajahnya saat itu..Papaku meninggal saat aku berumur 2 tahun karena kebakaran rumah kami. Tidak ada satupun yang tersisa. Saat aku berumur 2 tahun aku tidak mengerti apa-apa soal kematian papa. Pokoknya, yang aku tahu, nama papa adalah Gunawan Sutedja dan beliau udah meninggal dan mama tidak pernah menutupinya.Aku tidak pernah sedih tentang papa. Mungkin hanya terkadang iri dengan teman-teman di sekolahku.
Tapi, di umurku yang ke 22 ini aku mulai mengerti arti seorang papa dengan persepsi berbeda. Kalo gitu, aku teruskan lagi ceritanya ya...

Esok harinya, sesuai janji mama, aku pergi ke rumah super besar di sebelah rumahku itu. Rumahku juga besar, tapi tentu saja tidak sebesar rumah sebelah itu.. Aku yakin, pembantunya lebih dari 10.
Saat keluar rumah tidak kurasakan dinginnya kota Bandung. Sebagai anak berumur 4 tahun, saat itu ingatanku cukup kuat jika mengingat cerita-cerita menarik yang diceritakan oleh mama. Mama bilang, mama dan papa bertemu di Bandung. Tepatnya cinta mahasiswa dan mahasiswi di sebuah universitas negeri yang ternama di Bandung. Mama bilang, dulu Bandung sangat dingin dan udaranya segar. Sayangnya perkembangan jaman dan teknologi menyebabkan Bandung tidak sesegar dulu. Bandung sudah panas dan jika hujan besar, banjir di mana-mana. Sama saja seperti jakarta, tempat tinggalku sebelumnya. Hanya saja tidak sepanas di sana.
Sambil berjalan ke arah rumah besar itu, aku mencoba mengingat wajah papa. Aku tidak ingat wajah papa sama sekali. Aku juga tidak pernah meminta melihat foto papa pada mama. Papa meninggal pada saat aku berumur 2 tahun. Mungkin itu sebabnya aku tidak mengingat wajah papa..
Sampai di depan rumahnya, sang satpam kepala plontos dengan ramah menyapa aku dan mama, menelepon seseorang lewat telepon satelit yang ada di pos nya, lalu mempersilakan kami berjalan melewati taman menuju pintu masuk ke rumah. Setelah satpam meninggalkan kami, kami kembali disambut oleh orang dari dalam rumah itu. Seorang wanita paruh baya yang lalu mempersilakan kami duduk. Akhirnya sang empunya rumah datang. Ada seorang bapak, dan ibu dan anak laki-laki kecil di sana.
Tidak ada satupun percakapan 3 orang tua di sana yang kumengerti,sepertinya sama juga dengan anak laki-laki itu.. Aku hanya menjawab ketika ditanya saja. Hanya hal itu yang bisa dilakukan seorang anak berumur 4 tahun sepertiku.
Lalu ibu mulai bertanya soal teman baruku yang kemarin bermain bersamaku. Kulihat ekspresi kaget dari om dan tante yang ada di depanku. Kecuali anak laki-laki itu. Ia pun tidak mengerti apa yang orang tuanya bicarakan.
Mulai saat itu, saat aku bercerita tentang hari-hari yang kulalui bersama Sita, mama selalu memarahiku. Entah kenapa mama sangat tidak suka pada Sita. Padahal, mama belum pernah sekalipun bertemu dengan Sita.
Sampai akhirnya aku baru tahu alasannya saat aku berumur 7 tahun. Umur di saat aku juga tahu tentang anak laki-laki rumah sebelah itu.
Namanya Chris.Orang tuanya adalah konglomerat dari sebuah grup pendiri beberapa apartemen dan real estate di Indonesia. Tak aneh jika keluarganya memiliki rumah sebesar itu. Chris seumuran denganku, bersekolah sama denganku, sekelas denganku, duduk semeja denganku. Saat itu kami ada di akhir kelas 1 SD. Kami mulai bersahabat, pulang bersama dengan menaiki mobilnya. Aku ingat nama sopir kocak yang selalu mengantar jemput aku dan Chris. Namanya Pak Jaja. Pak Jaja tinggal di Cikijing. Salah satu kota di Jawa Barat mungkin. Sejak dulu hingga sekarang aku tidak pernah tertarik untuk mencari nama tempat itu biarpun namanya lucu.
Suatu saat kami pulang sekolah, Chris bertanya serius padaku
“Nata, kata mama, waktu kamu dateng ke rumahku waktu itu, mamamu bercerita kalau kamu bermain dengan Sita ya?” Kata Chris sambil memainkan gameboy pemberian papanya.
“Iya!! Kamu juga pernah main sama Sita yahh!!! Aneh deh, sejak aku ke rumah kamu itu loooh aku jadi ga boleh main sama Sita lagi. Ga tau tuh kenapa!!” Kataku bersemangat.
“Bukan gitu nata.. Sita itu sebenernya saudara kembar aku”Kata Chris lagi perlahan.
“Haaaahhh? Masa Chris?? Kok aku ga pernah liat sih?” Teriakku kaget.
“Soalnya,sebernya dia udah meninggal waktu aku dan Sita umur 2 tahun. Sita tenggelam di kolam renang belakang rumah. Itu loh, yang sebelah taman kamu nata..” Kata Chris lagi.
“....” Mataku membulat. Kaget. Apa benar Sita saudara kembar Chris yang dulu aku ajak main setiap hari?? -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Sejak saat itu, aku mulai menyadari kemampuanku ini. Entah harus disebut kelebihan atau kekurangan akupun tak mengerti.
Aku tidak pernah bercerita apa-apa pada mama setelah beberapa ceritaku yang ditanggapinya dengan terlampau kuatir.Sebenarnya banyak sekali rasa takut dalam diriku saat beberapa kali aku melihat “hal” itu. Tapi kupikir tidak terlalu buruk. Kusebut mereka roh. Tidak jelek seperti yang ada di TV. Mirip manusia, hanya saja yaaa mereka itu roh..
Aku bisa saja berteman dengan roh-roh itu. Seperti Sita, roh kecil yang malang di belakang rumah.. Kupikir, roh itu tidak bisa bertumbuh seperti manusia. Buktinya, saat aku sudah sebesar ini, Sita tetap saja kecil seperti saat aku melihatnya pertama kali.


bersambung...

3 comments:

Jesicca Kristin mengatakan...

mangap yahh teman temin... meuni jadi ga ada paragraf rapih nya gituh... copas doang ama gw... wkwkwkwk... pusing ngebacanya yahhh... wkwkkwkwkwkwkwkwk

Anonim mengatakan...

i like it nini titiiinn..... lanjutkan!! ngga usah takut dicopas orang. ntar gw yg bela'in u klo ada yg ngaku2... hihihi

Jesicca Kristin mengatakan...

wakakakakakakk!!! LANJUTKANNNN!!! Gw pngen ada kotak shout out kaya lu..

Posting Komentar